Desa Sade, Keindahan Tradisi dan Kearifan Lokal di Lombok

Paket Wisata Lombok – Indonesia dengan keberagaman budaya dan kekayaan alamnya, menyimpan berbagai destinasi wisata yang menakjubkan. Salah satunya adalah Desa Sade, sebuah desa tradisional yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Desa ini bukan hanya sekadar destinasi wisata biasa, tetapi juga merupakan wujud hidupnya masyarakat Sasak yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang mereka. Maka dari itu desa ini juga disebut sebagai Desa Wisata Budaya Suku Sasak.

Artikel ini akan membahas tentang Desa Sade, keindahan tradisi, dan kearifan lokal yang membuatnya menjadi tempat yang patut dikunjungi.

Janji untuk tetap membaca sampai akhir untuk menambah wawasanmu tentang destinasi wisata lokal satu ini?

 

 

Lokasi dan Sejarah Desa Sade

Credit: Kompas

Desa Sade terletak sekitar 20 kilometer dari Kota Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Desa ini terkenal dengan arsitektur tradisionalnya yang unik, yang terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan alang-alang.

Desa Sade menjadi tujuan wisata yang populer bagi mereka yang ingin merasakan atmosfer budaya Sasak yang kental.

Sejarah Desa Sade sendiri memiliki akar yang dalam. Desa ini diyakini telah ada sejak abad ke-16, dan hingga saat ini, masih dihuni oleh keturunan suku Sasak yang mempertahankan tradisi nenek moyang mereka. Desa Sade juga memiliki nilai sejarah yang signifikan dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda pada masa lalu.

 

Arsitektur Rumah Tradisional

Credit: Pariwisata Indonesia

Salah satu daya tarik utama Desa Sade adalah arsitektur rumah tradisionalnya yang unik.

Rumah-rumah di Desa Sade terbuat dari anyaman bambu dan tanaman alang-alang untuk atapnya. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu memberikan sirkulasi udara yang baik, menjadikannya nyaman di tengah terik matahari tropis.

Selain itu, bentuk rumahnya sederhana namun indah memberikan kesan estetika yang khas.

Rumah-rumah di Desa Sade biasanya memiliki dua lantai.

Lantai pertama berfungsi sebagai tempat tinggal, sementara lantai kedua digunakan untuk menyimpan hasil pertanian atau sebagai tempat beristirahat.

Selain itu, ada juga pelataran di sekitar rumah yang menjadi tempat pertemuan dan kegiatan komunal masyarakat.

 

Kearifan Lokal dan Tradisi Budaya

Credit: Lucianancy

Desa Sade tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur tradisionalnya, tetapi juga kaya akan kearifan lokal dan tradisi budayanya.

Masyarakat Desa Sade sangat memegang teguh nilai-nilai luhur, seperti gotong royong, kebersamaan, dan saling menghormati. Mereka menjaga tradisi nenek moyang dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari upacara adat, tarian tradisional, hingga kerajinan tangan khas.

 

Baca Juga: Pesona Pulau Seribu Masjid, Eksplorasi 8 Wisata Favorit di Lombok

 

Credit: The Asian Parent

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan di Desa Sade adalah upacara Bau Nyale. Upacara ini dilakukan setiap tahun saat musim panas tiba, ketika terjadi fenomena alam yang membuat cacing laut Nyale keluar dari pasir pantai.

Masyarakat Desa Sade percaya bahwa Nyale memiliki nilai spiritual dan keberuntungan, sehingga mereka mengadakan upacara sebagai bentuk penghormatan.

Dusun Sade terdiri dari sekitar 150 rumah, sebagian besar masih berarsitektur rumah tradisional dengan atap yang memiliki bentuk unik, terbuat dari ilalang yang harus diganti setiap delapan tahun sekali.

Lantai rumah di Dusun Sade terbuat dari tanah, yang secara berkala dilulur dengan kotoran kerbau atau sapi agar tetap kokoh dan bebas dari retak-retak serta debu.

Dusun Sade memiliki titik tertinggi yang memungkinkan pengunjung melihat seluruh wilayahnya. Karena lanskap Dusun Sade yang berundak, disarankan bagi pengunjung untuk mempersiapkan pakaian dan sepatu yang nyaman untuk melakukan pendakian.

Sebanyak sekitar 750 orang dari Suku Sasak tinggal di Dusun Sade, yang sebagian besar memiliki hubungan kekerabatan atau berasal dari garis keturunan yang sama.

Warga Dusun Sade memiliki tempat tinggal tetap di lokasi tersebut. Meskipun demikian, pemerintah daerah juga menyediakan rumah bagi warga di luar kawasan desa wisata, dengan tujuan agar mereka tidak mengubah rumah tradisional mereka di Dusun Sade dengan membangun rumah baru yang lebih modern.

Penduduk pria Dusun Sade umumnya berprofesi sebagai petani atau buruh sawit. Oleh karena itu, saat berkunjung ke Dusun Sade, pengunjung mungkin akan lebih sering berinteraksi dengan kaum wanita.

Aktivitas mereka sangat beragam, termasuk menenun, merawat anak, menjajakan cinderamata, menumbuk kopi, memasak, dan berbagai kegiatan lainnya. Namun, terdapat juga kaum pria, seperti pemandu wisata atau pengrajin gelang akar bahar.

Menurut para pemandu, kepercayaan agama setempat dahulu merupakan gabungan antara Animisme, Hindu, dan Muslim, meskipun mayoritas Suku Sasak menganut agama Islam pada umumnya.

Di Desa Sade juga terdapat tradisi unik yaitu kawin culik. Tradisi ini berlaku ketika pemuda Dusun Sade berkeinginan untuk menikahi kekasih hati mereka, mereka tidak mengikuti prosedur lamaran seperti pada umumnya dengan datang baik-baik ke keluarga calon mertua.

Sebaliknya, para pemuda diharuskan secara diam-diam menculik wanita yang menjadi pujaan hati mereka. Setelah berhasil menculik, wanita tersebut dibawa ke rumah kerabat pada malam hari tanpa sepengetahuan keluarga wanita.

Dan pada hari berikutnya, baru kemudian dibicarakan secara terbuka tentang rencana pernikahan dengan keluarga dari calon mempelai wanita.

Apabila pemuda Dusun Sade memilih untuk menikahi gadis yang juga tinggal di Dusun Sade, mahar yang diberikan cenderung lebih terjangkau, yakni sekitar Rp100.000,00.

Namun, jika mereka memutuskan untuk menikahi gadis dari luar Dusun Sade, mereka harus bersiap-siap untuk mengeluarkan kocek yang lebih dalam, dengan biaya yang bisa mencapai harga dua ekor kerbau.

Ada lagi mitos yang berkembang dan dipercaya setiap penduduk Desa Sade ini. Yaitu setiap gadis Sasak, termasuk yang tinggal di Dusun Sade, diharuskan memiliki keterampilan menenun. Mereka tidak diijinkan untuk menikah sebelum mahir dalam keahlian tersebut. 

Pentingnya penguasaan keterampilan menenun ini sangat mendalam, bahkan sampai-sampai terdapat sebuah mitos yang melarang anak perempuan di sana untuk mengonsumsi sayap ayam. Mengapa, ya, ada larangan seperti itu?

Ternyata, sayap ayam memiliki bentuk yang mirip dengan tangan yang tertekuk kaku. Hal ini diyakini dapat menghambat kelenturan tangan gadis-gadis tersebut ketika sedang belajar memainkan alat tenun.

Yang terakhir, penduduk Desa Sade ternyata masih banyak yang belum bisa berbahasa Indonesia.

Sebagian besar penduduk Dusun Sade, terutama mereka yang sudah berusia lanjut, banyak yang tidak familiar dengan Bahasa Indonesia. Mayoritas dari mereka bahkan tidak mendapatkan pendidikan formal.

Namun, berkat perkembangan pariwisata yang terus meningkat dan meningkatnya popularitas Dusun Sade sebagai destinasi wisata yang memberikan peluang mata pencaharian baru, kini anak-anak di sana dapat mengakses pendidikan formal, dan taraf hidup warga pun meningkat.

Pada percakapan sehari-hari, penduduk Dusun Sade umumnya menggunakan bahasa daerah. 

 

Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Budaya

Desa Sade juga memiliki potensi ekonomi yang dikembangkan dengan memanfaatkan kearifan lokal dan budayanya. Pengunjung dapat membeli berbagai produk kerajinan tangan khas Desa Sade, seperti kain tenun, kerajinan anyaman, dan souvenir lainnya.

Pemberdayaan ekonomi berbasis budaya ini membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi mereka.

 

Baca Juga: Pantai Pink Lombok, Destinasi Wisata Eksotis yang Tak Tergantikan

 

Desa Sade adalah permata yang tersembunyi di Pulau Lombok yang menawarkan pengalaman wisata budaya yang unik dan autentik.

Dengan arsitektur tradisionalnya yang memesona, kearifan lokal yang dijunjung tinggi, dan tradisi budaya yang masih dilestarikan, Desa Sade menjadi destinasi yang memikat bagi mereka yang ingin menjelajahi kekayaan warisan budaya Indonesia.

Mengunjungi Desa Sade bukan hanya sekadar liburan, tetapi juga merupakan perjalanan menelusuri jejak sejarah dan kehidupan masyarakat Sasak yang kaya akan nilai-nilai tradisionalnya.

Desa Sade, Keindahan Tradisi dan Kearifan Lokal di Lombok

Paket Wisata Lombok – Indonesia dengan keberagaman budaya dan kekayaan alamnya, menyimpan berbagai destinasi wisata yang menakjubkan. Salah satunya adalah Desa Sade, sebuah desa tradisional yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

 

Desa ini bukan hanya sekadar destinasi wisata biasa, tetapi juga merupakan wujud hidupnya masyarakat Sasak yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang mereka. Maka dari itu desa ini juga disebut sebagai Desa Wisata Budaya Suku Sasak.

 

Artikel ini akan membahas tentang Desa Sade, keindahan tradisi, dan kearifan lokal yang membuatnya menjadi tempat yang patut dikunjungi.

 

Janji untuk tetap membaca sampai akhir untuk menambah wawasanmu tentang destinasi wisata lokal satu ini?

 

Lokasi dan Sejarah Desa Sade

Credit: Kompas

 

Desa Sade terletak sekitar 20 kilometer dari Kota Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat.

 

Desa ini terkenal dengan arsitektur tradisionalnya yang unik, yang terbuat dari anyaman bambu dan beratapkan alang-alang.

 

Desa Sade menjadi tujuan wisata yang populer bagi mereka yang ingin merasakan atmosfer budaya Sasak yang kental.

 

Sejarah Desa Sade sendiri memiliki akar yang dalam. Desa ini diyakini telah ada sejak abad ke-16, dan hingga saat ini, masih dihuni oleh keturunan suku Sasak yang mempertahankan tradisi nenek moyang mereka. Desa Sade juga memiliki nilai sejarah yang signifikan dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda pada masa lalu.

 

Arsitektur Rumah Tradisional

Credit: Pariwisata Indonesia

Credit: Pariwisata Indonesia

 

Salah satu daya tarik utama Desa Sade adalah arsitektur rumah tradisionalnya yang unik.

 

Rumah-rumah di Desa Sade terbuat dari anyaman bambu dan tanaman alang-alang untuk atapnya. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu memberikan sirkulasi udara yang baik, menjadikannya nyaman di tengah terik matahari tropis.

 

Selain itu, bentuk rumahnya sederhana namun indah memberikan kesan estetika yang khas.

 

Rumah-rumah di Desa Sade biasanya memiliki dua lantai.

 

Lantai pertama berfungsi sebagai tempat tinggal, sementara lantai kedua digunakan untuk menyimpan hasil pertanian atau sebagai tempat beristirahat.

 

Selain itu, ada juga pelataran di sekitar rumah yang menjadi tempat pertemuan dan kegiatan komunal masyarakat.

 

Kearifan Lokal dan Tradisi Budaya

Credit: Lucianancy

 

Desa Sade tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur tradisionalnya, tetapi juga kaya akan kearifan lokal dan tradisi budayanya.

 

Masyarakat Desa Sade sangat memegang teguh nilai-nilai luhur, seperti gotong royong, kebersamaan, dan saling menghormati. Mereka menjaga tradisi nenek moyang dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari upacara adat, tarian tradisional, hingga kerajinan tangan khas.

Credit: The Asian Parent

 

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan di Desa Sade adalah upacara Bau Nyale. Upacara ini dilakukan setiap tahun saat musim panas tiba, ketika terjadi fenomena alam yang membuat cacing laut Nyale keluar dari pasir pantai. Masyarakat Desa Sade percaya bahwa Nyale memiliki nilai spiritual dan keberuntungan, sehingga mereka mengadakan upacara sebagai bentuk penghormatan.

 

Dusun Sade terdiri dari sekitar 150 rumah, sebagian besar masih berarsitektur rumah tradisional dengan atap yang memiliki bentuk unik, terbuat dari ilalang yang harus diganti setiap delapan tahun sekali. Lantai rumah di Dusun Sade terbuat dari tanah, yang secara berkala dilulur dengan kotoran kerbau atau sapi agar tetap kokoh dan bebas dari retak-retak serta debu.

 

Dusun Sade memiliki titik tertinggi yang memungkinkan pengunjung melihat seluruh wilayahnya. Karena lanskap Dusun Sade yang berundak, disarankan bagi pengunjung untuk mempersiapkan pakaian dan sepatu yang nyaman untuk melakukan pendakian.

 

Sebanyak sekitar 750 orang dari Suku Sasak tinggal di Dusun Sade, yang sebagian besar memiliki hubungan kekerabatan atau berasal dari garis keturunan yang sama.

 

Warga Dusun Sade memiliki tempat tinggal tetap di lokasi tersebut. Meskipun demikian, pemerintah daerah juga menyediakan rumah bagi warga di luar kawasan desa wisata, dengan tujuan agar mereka tidak mengubah rumah tradisional mereka di Dusun Sade dengan membangun rumah baru yang lebih modern.

 

Penduduk pria Dusun Sade umumnya berprofesi sebagai petani atau buruh sawit. Oleh karena itu, saat berkunjung ke Dusun Sade, pengunjung mungkin akan lebih sering berinteraksi dengan kaum wanita.

 

Aktivitas mereka sangat beragam, termasuk menenun, merawat anak, menjajakan cinderamata, menumbuk kopi, memasak, dan berbagai kegiatan lainnya. Namun, terdapat juga kaum pria, seperti pemandu wisata atau pengrajin gelang akar bahar.

 

Menurut para pemandu, kepercayaan agama setempat dahulu merupakan gabungan antara Animisme, Hindu, dan Muslim, meskipun mayoritas Suku Sasak menganut agama Islam pada umumnya.

 

Di Desa Sade juga terdapat tradisi unik yaitu kawin culik. Tradisi ini berlaku ketika pemuda Dusun Sade berkeinginan untuk menikahi kekasih hati mereka, mereka tidak mengikuti prosedur lamaran seperti pada umumnya dengan datang baik-baik ke keluarga calon mertua.

 

Sebaliknya, para pemuda diharuskan secara diam-diam menculik wanita yang menjadi pujaan hati mereka. Setelah berhasil menculik, wanita tersebut dibawa ke rumah kerabat pada malam hari tanpa sepengetahuan keluarga wanita.

 

Dan pada hari berikutnya, baru kemudian dibicarakan secara terbuka tentang rencana pernikahan dengan keluarga dari calon mempelai wanita.

 

Apabila pemuda Dusun Sade memilih untuk menikahi gadis yang juga tinggal di Dusun Sade, mahar yang diberikan cenderung lebih terjangkau, yakni sekitar Rp100.000,00.

 

Namun, jika mereka memutuskan untuk menikahi gadis dari luar Dusun Sade, mereka harus bersiap-siap untuk mengeluarkan kocek yang lebih dalam, dengan biaya yang bisa mencapai harga dua ekor kerbau.

 

Ada lagi mitos yang berkembang dan dipercaya setiap penduduk Desa Sade ini. Yaitu setiap gadis Sasak, termasuk yang tinggal di Dusun Sade, diharuskan memiliki keterampilan menenun. Mereka tidak diijinkan untuk menikah sebelum mahir dalam keahlian tersebut. 

 

Pentingnya penguasaan keterampilan menenun ini sangat mendalam, bahkan sampai-sampai terdapat sebuah mitos yang melarang anak perempuan di sana untuk mengonsumsi sayap ayam. Mengapa, ya, ada larangan seperti itu?

 

Ternyata, sayap ayam memiliki bentuk yang mirip dengan tangan yang tertekuk kaku. Hal ini diyakini dapat menghambat kelenturan tangan gadis-gadis tersebut ketika sedang belajar memainkan alat tenun.

 

Yang terakhir, penduduk Desa Sade ternyata masih banyak yang belum bisa berbahasa Indonesia.

 

Sebagian besar penduduk Dusun Sade, terutama mereka yang sudah berusia lanjut, banyak yang tidak familiar dengan Bahasa Indonesia. Mayoritas dari mereka bahkan tidak mendapatkan pendidikan formal.

 

Namun, berkat perkembangan pariwisata yang terus meningkat dan meningkatnya popularitas Dusun Sade sebagai destinasi wisata yang memberikan peluang mata pencaharian baru, kini anak-anak di sana dapat mengakses pendidikan formal, dan taraf hidup warga pun meningkat.

 

Pada percakapan sehari-hari, penduduk Dusun Sade umumnya menggunakan bahasa daerah. 

 

Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Budaya

Desa Sade juga memiliki potensi ekonomi yang dikembangkan dengan memanfaatkan kearifan lokal dan budayanya. Pengunjung dapat membeli berbagai produk kerajinan tangan khas Desa Sade, seperti kain tenun, kerajinan anyaman, dan souvenir lainnya.

 

Pemberdayaan ekonomi berbasis budaya ini membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat, sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi mereka.

 

Desa Sade adalah permata yang tersembunyi di Pulau Lombok yang menawarkan pengalaman wisata budaya yang unik dan autentik.

 

Dengan arsitektur tradisionalnya yang memesona, kearifan lokal yang dijunjung tinggi, dan tradisi budaya yang masih dilestarikan, Desa Sade menjadi destinasi yang memikat bagi mereka yang ingin menjelajahi kekayaan warisan budaya Indonesia.

 

Mengunjungi Desa Sade bukan hanya sekadar liburan, tetapi juga merupakan perjalanan menelusuri jejak sejarah dan kehidupan masyarakat Sasak yang kaya akan nilai-nilai tradisionalnya.