Menelusuri Keindahan Seni dan Kuliner Malang

Paket Wisata Malang – Malang adalah sebuah kota yang dikenal dengan pesona alamnya yang memesona. Selain itu, kota ini juga menjadi panggung bagi pertunjukan seni yang memukau dan hidangan lezat yang menggoyang lidah.

Kota ini tidak hanya menawarkan keindahan alam yang menakjubkan, tetapi juga menghidupkan seni dan kuliner dengan cara yang istimewa.

Yuk kita telusuri beberapa tempat menarik di Malang dimana kita dapat menikmati pertunjukan seni yang mengesankan sambil menikmati hidangan lezat.

Batu Secret Zoo

Credit: Yoursay

Batu Secret Zoo adalah tempat yang unik di Malang yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pertunjukan seni dari hewan-hewan yang dilatih dengan indah.

Sambil menikmati atraksi binatang, jika kamu berkunjung ke sini, kamu dapat mencicipi hidangan lezat di area-area bersantap yang tersedia di dalam kawasan zoo.

Pengalaman ini memberikan kombinasi yang menyenangkan antara keindahan seni dan keunikan alam.

Malang Strudel

Credit: Tripadvisor

Malang Strudel bukan hanya tempat untuk menikmati sajian strudel yang lezat, tetapi juga menjadi tempat bagi pertunjukan seni lokal.

Cafe ini sering menyelenggarakan pertunjukan musik akustik, pameran seni rupa, dan bahkan teater kecil.

Suasana yang cozy dan kreatif di dalam Malang Strudel menciptakan pengalaman yang unik bagi para pengunjung, termasuk kamu jika datang berkunjung ke sini.

Sambil menikmati strudel yang kenyal dan legit, kamu juga dapat meresapi keindahan karya seni dari para seniman lokal.

Jodipan Color Village

Credit: Daily Travel Pill

Jodipan Color Village bukan hanya kawasan tempat tinggal yang penuh warna, tetapi juga menjadi panggung seni jalanan yang menarik.

Di sini, kamu dapat menemukan mural-mural indah yang menceritakan kisah-kisah lokal. Setiap sudut Jodipan Color Village menyajikan kejutan seni yang menyenangkan.

Pada beberapa kesempatan, para seniman lokal sering mengadakan pertunjukan seni di jalan-jalan kampung ini. Sambil menjelajahi keunikan Jodipan Color Village, kamu juga dapat mencicipi jajanan khas Malang dari pedagang kaki lima di sekitar kawasan ini.

Balai Kota Malang

Credit: Rumah123

Balai Kota Malang sering menjadi tuan rumah berbagai acara seni, mulai dari konser musik hingga pameran seni.

Gedung yang megah dan bersejarah ini memberikan nuansa yang elegan bagi setiap pertunjukan seni yang diselenggarakan di dalamnya.

Ketika berkunjung ke sini, sambil menyaksikan penampilan seniman-seniman lokal maupun nasional, kamu dapat menikmati hidangan lezat yang disajikan oleh katering terbaik di Malang.

Suasana yang berkelas di Balai Kota Malang akan membuat pengalaman menikmati seni dan kuliner menjadi tak terlupakan.

Alun-Alun Malang

Credit: Rukita

Alun-Alun Malang adalah pusat kegiatan seni dan budaya di kota ini.

Tempat ini sering menjadi lokasi pertunjukan seni, pameran, dan kegiatan seni lainnya.

Sambil menikmati suasana yang ramai di alun-alun, kamu dapat menjelajahi aneka kuliner lezat yang dijajakan oleh pedagang kaki lima di sekitar area ini.

Malang bukan hanya destinasi wisata alam yang menakjubkan, tetapi juga kota seni dan kuliner yang mempesona.

 

Tempat-tempat yang menyelenggarakan pertunjukan seni sambil menikmati hidangan lezat menjadi magnet bagi para pencinta seni dan kuliner.

Dengan atmosfer yang unik dan keberagaman seni yang ditawarkan, Malang memberikan pengalaman liburan yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung.

Jadi, jangan lewatkan kesempatanmu untuk merasakan keindahan Malang melalui seni dan kuliner yang menggoda selera. Yuk kita ke Malang!

Baca Juga: Kuliner Malang Dekat Stasiun Kota Baru, Kulineran Seru Sambil Menunggu

Menelusuri Kekayaan Budaya Jawa di Museum Sonobudoyo

Tour Jogja – Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa yang terletak di Yogyakarta, Indonesia. Nama “Sonobudoyo” sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang terdiri dari kata “sono” yang berarti “warisan” dan “budoyo” yang berarti “budaya”. Hal ini mencerminkan tujuan dari museum ini, yaitu melestarikan warisan budaya Jawa. 

Museum ini didirikan pada tahun 1935 oleh Sultan Hamengkubuwono VII. Museum Sonobudoyo memiliki fungsi pengelolaan benda museum yang memiliki nilai budaya ilmiah, meliputi koleksi pengembangan dan bimbingan edukatif kultural. 

Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit, yaitu Unit I yang terletak di Jalan Trikora No. 6 Yogyakarta, dan Unit II yang terdapat di Ndalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. Museum Sonobudoyo juga sering menjadi lokasi berbagai kegiatan budaya seperti pertunjukan wayang, festival musik, dan lokakarya kerajinan tangan. 

Museum ini dikelola oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan memiliki total koleksi sebanyak 63.000 benda. Bangunan utama museum ini didesain dengan gaya arsitektur Jawa klasik. Alamat Museum Sonobudoyo Unit 1: Jl. Trikora No. 6 Yogyakarta 55122, Unit 2: Jl. Wijilan Ndalem Condrokiranan Yogyakarta. Museum Sonobudoyo merupakan tempat yang sangat menarik untuk memahami dan menikmati kekayaan budaya Jawa.

Karya Seni di Museum Sonobudoyo

karya seni museum sonobudoyo

Credit: Museum Sonobudoyo

Museum Sonobudoyo menampilkan berbagai jenis karya seni dalam koleksinya. Berikut adalah beberapa kategori karya seni yang terdapat di museum ini:

  1. Koleksi Teknologi: Termasuk peralatan dan alat tertua, seperti gramofon.
  2. Koleksi Geologi: Menyajikan benda dan alat yang digunakan dalam penelitian geologi.
  3. Koleksi Biologi: Mencakup flora dan fauna yang menjadi objek penelitian dalam bidang biologi.
  4. Koleksi Etnografi: Mengumpulkan benda-benda yang menggambarkan budaya dan kehidupan dari masyarakat lokal dan asli.
  5. Koleksi Arkeologi: Menyajikan temuan arkeologi yang ditemukan dari berbagai daerah.
  6. Koleksi Historika: Mencakup dokumen, surat, dan peralatan yang berhubungan dengan sejarah.
  7. Koleksi Numismatika: Menyajikan mata uang, alat tukar, dan tkamu mata uang yang berhistori.
  8. Koleksi Filologi: Mengumpulkan benda-benda yang menjadi objek penelitian dalam bidang filologi, seperti perguruan, kalimat, dan teks.
  9. Koleksi Senjata: Menyajikan berbagai jenis senjata, seperti perangkat, peralatan, dan alat tahanan.
  10. Koleksi Topeng: Memamerkan berbagai jenis topeng karya seni tradisional Indonesia, seperti Topeng Karakter, Topeng Sabrangan, Topeng Bali Cerita Ramayana, Topeng Cirebon Cerita Mahabarata, dan Topeng Yogyakarta Cerita Panji

Tak hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi bersejarah, Museum Sonobudoyo juga seringkali menjadi lokasi berbagai kegiatan budaya. Mulai dari pertunjukan wayang, festival musik, hingga lokakarya kerajinan tangan, museum ini selalu hidup dan penuh dengan kegiatan yang menarik. 

Selain koleksinya yang memukau, Museum Sonobudoyo juga menarik perhatian karena bangunannya yang khas. Bangunan utama museum ini didesain dengan gaya arsitektur Jawa klasik, lengkap dengan tata letak dan ornamen khas. Hal ini menambah nuansa magis dan mistis ketika mengunjungi museum ini.

Bagi kamu yang ingin berkunjung ke Museum Sonobudoyo, museum ini buka setiap hari kecuali hari Senin, dan tiket masuknya pun sangat terjangkau. Dengan begitu, siapapun dapat dengan mudah menikmati keindahan dan kekayaan budaya Jawa yang ditawarkan oleh museum ini.

Dengan segala keindahan dan kekayaan budaya yang dimilikinya, Museum Sonobudoyo layak untuk dikunjungi. Melalui koleksi-koleksi yang dimilikinya, museum ini mampu membawa kita untuk lebih mengenal dan mencintai warisan budaya Jawa. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi museum yang memukau ini!

Menelusuri Jejak Sejarah Candi Dieng, Candi Megah di Atas Awan

Paket Wisata Dieng – Bagi kamu penyuka sejarah, pasti sudah tidak asing lagi dengan Candi Dieng, bukan?

Tapi, apakah kamu pernah berkunjung ke sana?

Candi yang berada di kaki pegunungan Dieng, Wonosobo, Banjarnegara, Jawa Tengah ini berada di ketinggian 2000 mdpl, sehingga cocok disebut sebagai candi di atas awan.

Candi Dieng berukuran panjang 1900 meter dengan lebar 800 meter, memanjang dari utara ke selatan. 

Berdasarkan lokasinya yang berada di dataran tinggi, para ahli memperkirakan bahwa fungsi dari candi ini adalah sebagai tempat pemujaan untuk Dewa Trimurti, tiga dewa utama dalam agama Hindu, yaitu Dewa Brahma (pencipta), Dewa Wisnu (pemelihara), Dewa Syiwa (penghancur).

Mau tahu selengkapnya tentang Candi Dieng? Simak sampai habis artikel ini.

 

Sejarah Candi Dieng

Credit: Visit Banjarnegara

Candi Dieng merupakan kumpulan candi Hindu yang beraliran Syiwa. Diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-7 sampai dengan 9, berdasarkan dugaan para ahli, candi ini merupakan candi tertua di Jawa.

Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti berangka tahun 808 Masehi yang merupakan prasasti tertua dengan tulisan huruf Jawa kuno di candi tersebut. Dan sampai saat ini prasasti tersebut masih ada.

Sampai saat ini belum ada literatur yang menjelaskan kapan pembangunan candi ini selesai, meskipun para ahli mengatakan bahwa candi ini dibangun berdasarkan perintah raja-raja dari Dinasti Sanjaya.

Pembangunan Candi Dieng diperkirakan dilakukan secara dua tahap.

Tahap pertama berlangsung pada akhir abad ke-7 sampai perempat pertama abad ke-8.

Pada tahap pertama ini, dilakukan pembangunan candi yaitu Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Semar, serta Candi Gatutkaca.

Sedangkan pembangunan keduanya dilakukan setelah tahap pertama selesai dibangun, yaitu sekitar tahun 780 Masehi.

 

Penemuan Kembali Candi Dieng

Credit: Tribun Banyumas

Candi Dieng ditemukan kembali pertama kali oleh tentara Inggris yang sedang berwisata ke kawasan ini pada 1814. Dulunya candi ini terendam di dalam genangan air yang disebut sebagai danau atau telaga. 

Kemudian pada 1856, Van Kinsbergen memimpin upaya pengeringan danau atau telaga untuk menyelamatkan candi tersebut.

Dan pada 1864 hingga 1878, upaya pembersihan dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda.

 

Kelompok Candi di Candi Dieng

Di Candi Dieng, terdapat 4 kelompok candi yang terdiri dari:

  1. Kelompok Arjuna: Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Sembadra, Candi Puntadewa, dan Candi Semar
  2. Kelompok Gatutkaca: Candi Gatutkaca, Candi Setyaki, Candi Nakula, Candi Sadewa, Candi Petruk, dan Candi Gareng
  3. Kelompok Dwarawati: Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari
  4. Candi Bima yang berdiri sendiri di atas bukit, yang merupakan bangunan terbesar di antara semua kelompok candi

 

Arsitektur Candi Dieng

Credit: Kompas

Karena merupakan candi yang berada di Jawa Tengah bagian utara, maka bangunan Candi Dieng cenderung berukuran lebih kecil, sederhana, dan ornamen yang ada terkesan kurang jika dibandingkan dengan candi-candi besar dan banyak dekorasi seperti candi-candi yang berada di Jawa Tengah bagian selatan.

Candi-candi yang berada di Jawa Tengah bagian utara dikelompokkan ke dalam kelompok yang tidak beraturan dengan variasi gaya candi masing-masing, yang berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah bagian selatan dengan desain perwara sebagai candi kecil pelengkap yang seragam.

Di sepanjang relung dan pintu keluar masuk pada candi yang tersisa, digunakan arsitektur topeng kala Jawa paling awal dan dan monster laut Makara.

Bangunan-bangunan Candi Dieng cenderung kecil dan sederhana. 

 

Rute Perjalanan ke Candi Dieng

Untuk bisa sampai ke Candi Dieng, kamu membutuhkan waktu sekitar 50 menit dengan jarak 25,6 kilometer dari pusat Wonosobo jika ingin mengunjungi Candi Arjuna.

Perjalanannya dapat dilalui dengan melewati Jalan Dieng dan Jalan Kejajar-Dieng.

Sedangkan untuk berkunjung ke Candi Bima, kamu membutuhkan waktu sekitar 52 menit dengam jarak 27,2 kilometer dari pusat Wonosobo.

Perjalanannya juga dapat dilalui dengan melewati Jalan Dieng dan Jalan Kejajar-Dieng, sama dengan rute perjalanan ke Candi Arjuna.

 

Itu dia informasi seputar Candi Dieng yang perlu kamu ketahui sebelum datang berkunjung.

Ingin mengunjungi tempat lain di Dieng tetapi belum merencanakannya? LABIRU TOUR menyediakan paket wisata hemat untuk kamu yang berencana untuk liburan di Dieng.

Menelusuri Kelezatan dan Cerita di Balik Masakan Gudeg

Credit: Detik

Paket Wisata Jogja – Buat kamu yang pernah berkunjung ke Yogyakarta, sudahkah mencicipi gudeg? Makanan tradisional khas Jogja ini tentu tidak asing di telinga kamu, kan?

Gudeg memiliki citarasa yang unik jika dibandingkan dengan makanan tradisional khas daerah lain. Manisnya yang dominan, menyesuaikan lidah orang Jogja (katanya).

Tapi pernahkah kamu memikirkan asal usul, sejarah, bahkan awal mula ditemukannya gudeg?

Pada artikel ini mari kita simak terkait gudeg untuk menambah wawasan kamu mengenai makanan yang berbahan dasar nangka muda ini.

 

Gudeg: Sebuah Identitas Kuliner Kota Gudeg

Gudeg, yang terkenal sebagai makanan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah, kini menjadi ciri khas kuliner yang erat terkait dengan Kota Gudeg. Cerita panjangnya bermula sejak zaman Kerajaan Mataram Islam didirikan di alas Mentaok, wilayah Kotagede pada abad ke-16. Pada awalnya, Gudeg bukanlah hidangan istana, tetapi muncul dari ide masyarakat sekitar.

Seiring berjalannya waktu, kota ini semakin dikenal sebagai Kota Gudeg, dan kelezatan makanan ini tidak hanya dihargai oleh penduduk setempat, tapi juga menarik minat wisatawan yang ingin mencicipi keunikan rasa Yogyakarta yang asli.

 

Jejak Sejarah Gudeg di Yogyakarta

Gudeg, walaupun tidak berasal dari istana, menjadi semakin terkenal pada tahun 1940-an ketika Presiden Sukarno mendirikan Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, kepopulerannya terus meningkat, menjadikannya bagian penting dari warisan kuliner kota ini.

Pada tahun 1982, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Yogyakarta melakukan pemetaan dan penelitian yang mendalam terhadap situs Warungboto, memperkuat keterkaitan antara gudeg dan sejarah kota. Meskipun gudeg tidak berasal dari lingkungan istana, keterlibatan langsung masyarakat dalam menjaga tradisi kuliner khas Yogyakarta semakin meneguhkan hubungannya dengan sejarah kota.

 

Proses Pembuatan Gudeg yang Menggoda Selera

Dengan menggunakan nangka muda sebagai bahan utamanya, gudeg mengalami proses memasak yang unik. Nangka tersebut direbus dalam waktu yang cukup lama dengan gula aren, santan, dan berbagai rempah-rempah seperti bawang putih, bawang merah, kemiri, biji ketumbar, lengkuas, daun salam, dan daun jati. Rempah-rempah ini tidak hanya memberikan rasa yang kaya, tetapi juga menciptakan warna merah kecoklatan yang khas pada hidangan.

Dengan kombinasi bumbu yang pas, gudeg menghasilkan rasa manis yang lezat, yang sering dijelaskan oleh penikmatnya sebagai “nangka hijau yang dimasak dengan rasa manis.” Keunikan cita rasa ini menjadikan gudeg begitu istimewa dan dihargai oleh masyarakat Jawa pada umumnya.

 

Pengalaman Wisata Kuliner di Kota Gudeg

Bagi para wisatawan yang mengunjungi Yogyakarta, merasakan gudeg bukan hanya tentang menikmati hidangan lezat, tetapi juga tentang mengalami sejarah dan budaya kota ini. Warung-warung dan restoran khas gudeg tersebar di berbagai sudut kota, menawarkan variasi gudeg dengan cita rasa yang unik.

Tidak hanya itu, para wisatawan juga dapat melihat secara langsung proses pembuatan gudeg di beberapa lokasi yang menyelenggarakan workshop atau tur memasak. Ini memberikan peluang bagi para pengunjung untuk lebih memahami dan menghargai seni kuliner tradisional Yogyakarta.

 

Gudeg bukan sekadar hidangan; itu adalah cerita hidup dan sejarah yang melibatkan masyarakat Yogyakarta. Dalam setiap gigitan, kamu tidak hanya merasakan rasa manisnya, tetapi juga mengalami kenangan masa lalu dan kebanggaan akan warisan budaya kota ini. Maka, ketika kamu berada di Yogyakarta, jangan pernah lewatkan kesempatan untuk menelusuri kelezatan dan cerita di balik masakan tradisional yang khas, Gudeg, ya!